Saturday, November 12, 2011

tanda iri hati(salah satu dr 7 deadly sins)

Apakah tanda-tanda dari iri hati?
Pertama, iri hati selalu bersifat kompetitif. Ia selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain dengan hasil yang selalu negatif. Dan kompetisi tersebut ternyata hanya muncul di dalam benak orang yang iri hati tersebut, yang amat mungkin tidak dilakukan oleh orang lain yang menjadi sasaran iri hati.
Kedua, iri hati menggerogoti dan merugikan orang yang iri hati dan mereka yang dekat dengannya.
Sebuah kisah tradisional Yahudi menceritakan tentang dua pedagang yang memiliki dua toko yang berseberangan. Masing-masing mengukur keberhasilan penjualan bukan dari jumlah barang yang terbeli, namun atas dasar seberapa lebihnya dari pejualan toko seberang. Allah akhirnya memutuskan untuk menghilangkan persaingan tak sehat ini dengan mengirimkan seorang malaikat-Nya. “Engkau bisa memiliki apa pun yang kau inginkan di dunia,” kata malaikat itu kepada salah satu dari dua orang itu, “umur panjang, banyak anak, kekayaan, kebijaksanaan atau hal lainnya. Hanya ketahuilah bahwa apa pun yang engkau minta, dia akan memperoleh dua kali lipat dari yang kauperoleh.” Setelah berpikir sejenak, orang itu berkata, “Buatlah salah satu mataku buta.”
Atau kisah dari Birma tentang seorang pembuat tempayan yang iri pada keberhasilan temannya yang bekerja sebagai pencuci. Maka, ia mendorong sang raja untuk memerintahkan si pencuci untuk mencuci gajah hitam hingga putih, sehingga dengan demikian sang raja bisa menjadi penguasa gajah putih. Sang raja menyetujui usulan pembuat tempayan ini dan mengeluarkan perintahnya. Si pencuci menjawab bahwa ia tak punya tempayan yang cukup besar yang mencuci gajah hitam itu. Akhirnya sang raja memerintahkan si pembuat tempayan untuk membuat tempayan besar yang cukup untuk menampung gajah tersebut. Namun setiap kali sebuah tempayan besar dibuat, selalu saja pecah karena injakan kaki gajah. Si pembuat tempayan itu menjadi kurban dari rencananya dan iri hatinya sendiri.
Ketiga, iri hati selalu membuat kita buta pada apa yang kita miliki dan kita terima. Orang yang iri hati mungkin saja memiliki dan menerima banyak hal, namun semua yang dia lihat hanyalah apa yang ia tak punya. Apa yang dimiliki orang lain akan selalu lebih baik, lebih banyak dan lebih besar.
Seorang yang terjebak ke dalam dosa kesombongan akan tergoda dengan ucapan seorang salesman, “Saya akan tunjukkan sebuah produk kepada Anda dan beberapa tetangga Anda berkata bahwa Anda tidak mampu membelinya.” Namun iri hati bisa dipakai oleh salesman tersebut dengan berkata, “Saya akan tunjukkan kepada Anda produk yang sudah dibeli oleh tetangga-tetangga Anda.”
Itu sebabnya Sokrates berkata, “Iri hati adalah putri dari kesombongan, pencipta dari pembunuhan dan balas dendam, ibu dari kejahatan rahasia, penyiksa abadi dari kebajikan. Iri hati adalah cairan kotor dari jiwa; sebuah bisa, sebuah racun… yang menggerogoti tubuh dan mengeringkan tulang.”
Keempat, ironisnya, orang yang iri hati selalu pada saat yang sama mengakui keunggulan orang lain. Karena itu, sementara orang yang iri hati selalu dalam keadaan tak puas, ada rasa puas dalam diri orang yang menjadi sasaran iri hati.
Kelima, iri hati menciptakan kesedihan. Dosa-dosa mematikan lainnya, sedikitnya, memberikan “kenikmatan.” Namun iri hati menciptakan nestapa dan kepedihan. Siapa yang mampu bergembira karena ia iri hati pada sesamanya? Tak pernah ada lagi perasaan syukur dan ucapan terima kasih pada Allah.
Reactions:

1 comment:

Anonymous said...

sangat menarik, terima kasih

All rights reserved by Catholic Youth of St.Paul unless stated.